Program Mitra IONext untuk System Integrator dan Perusahaan Solusi AI

    Diperbarui: · Jaka Wiradisuria, Chief Commercial Officer

    Ilustrasi cetak biru solusi system integrator yang terhubung ke rak server GPU IONext, dengan siluet kota Jakarta

    Program Mitra IONext membantu system integrator dan perusahaan solusi AI memenangkan proyek AI di perbankan, BUMN dan pemerintahan yang mensyaratkan data diproses di Indonesia. Mitra tetap memegang hubungan dengan klien, sementara IONext menyediakan GPU dan inference di Jakarta beserta bukti kepatuhan yang diminta saat tender.

    Apa itu Program Mitra IONext?

    Program Mitra IONext adalah skema co-sell untuk perusahaan yang membangun solusi AI bagi klien di sektor teregulasi. Mitra merancang dan mengirimkan solusinya. IONext menyediakan komputasi GPU, managed inference melalui API yang kompatibel dengan OpenAI, dan dokumen kepatuhan, dioperasikan PT Data Awan Nusantara di Jakarta dengan penagihan dalam Rupiah.

    Program ini ada karena pertanyaan pertama di banyak RFP AI sekarang bukan soal model. Pertanyaannya: di mana data diproses, siapa sub-prosesornya, dan dokumen apa yang membuktikannya. Per Oktober 2026, PP No. 33 Tahun 2026 sebagai peraturan pelaksana UU No. 27 Tahun 2022 tentang Pelindungan Data Pribadi (UU PDP) sudah diundangkan pada 16 Juli 2026 dan berlaku 16 Januari 2027. Tim pengadaan dan risiko di bank, BUMN dan instansi pemerintah mulai meminta jawaban tertulis sebelum proyek masuk tahap POC.

    Mitra yang bisa menjawab dengan dokumen, bukan janji, lolos evaluasi lebih cepat. Ringkasan dampak PP 33/2026 untuk tim delivery ada di artikel PP 33/2026 dan dampaknya untuk proyek AI system integrator.

    Siapa yang cocok menjadi mitra IONext?

    Mitra yang paling cocok adalah system integrator dan perusahaan solusi AI yang sudah menjalankan atau menawar proyek AI untuk klien perbankan, keuangan, asuransi, BUMN, kementerian atau pemerintah daerah. Kecocokan paling tinggi bila proyek butuh GPU atau LLM dan klien mensyaratkan data tetap diproses di Indonesia.

    Profil yang biasanya cocok:

    • System integrator yang mengerjakan modernisasi TI dan perlu komponen AI di dalam proposal.
    • Perusahaan solusi AI dengan produk document AI dan OCR, computer vision untuk CCTV, chatbot Bahasa Indonesia, atau speech-to-text.
    • Software house yang sudah memakai API model asing dan mulai menerima pertanyaan residensi data dari klien.
    • Konsultan TI yang menyusun arsitektur untuk tender BUMN atau pemerintah.

    Program ini kurang cocok bila proyek tidak butuh GPU, tidak menyentuh data pribadi atau data strategis, atau bila satu-satunya kriteria klien adalah harga komputasi termurah tanpa syarat lokasi data.

    Apa yang didapat mitra dari IONext?

    Mitra mendapat empat hal yang biasanya memperlambat proyek AI di sektor teregulasi: skema komersial yang disepakati di awal, materi penjualan siap pakai, paket bukti kepatuhan, dan dukungan teknis untuk sizing dan POC. Tujuannya agar tim mitra bisa menawarkan infrastruktur AI berdaulat tanpa harus menunggu IONext hadir di setiap rapat.

    Hambatan di proyek Yang disediakan IONext Dampaknya bagi mitra
    Komersial: syarat dinegosiasikan ulang di setiap proyek Perjanjian co-sell standar dan skema mitra yang disepakati sekali di awal Mitra bisa menyusun penawaran tanpa menunggu negosiasi per proyek
    Penjelasan: tim sales mitra belum terbiasa menjelaskan infrastruktur AI Kit enablement: one-pager, kartu layanan, deck co-sell, panduan menjawab keberatan Mitra bisa presentasi ke klien tanpa IONext di ruangan
    Kepatuhan: klien menanyakan lokasi data dan sertifikasi Paket bukti kedaulatan: sertifikat ISO/IEC 27001:2022, posisi UU PDP, residensi Jakarta, penagihan Rupiah Pertanyaan due diligence dijawab dengan dokumen yang bisa diverifikasi
    Teknis: sizing GPU dan arsitektur belum pasti Sesi sizing dan dukungan POC dari tim teknis IONext Arsitektur yang diajukan ke klien sudah dicek sebelum tender

    Penagihan IONext dilakukan dalam Rupiah melalui badan hukum Indonesia. Bagi mitra, biaya infrastruktur dalam kontrak multi-tahun tidak ikut bergerak mengikuti kurs dolar AS, sehingga perhitungan proyek lebih mudah dijaga.

    Bagaimana alur co-sell dengan IONext berjalan?

    Alur co-sell dimulai dari peluang yang sudah dipegang mitra. Mitra mendaftarkan peluang, IONext membantu sizing dan menyiapkan bukti kepatuhan, mitra mengajukan penawaran ke klien, lalu POC dan produksi berjalan di infrastruktur IONext di Jakarta. Hubungan dengan klien tetap di tangan mitra dari awal sampai akhir.

    1. Percakapan awal. Mitra menjelaskan jenis proyek, sektor klien, dan syarat kepatuhannya. Nama klien tidak wajib disebut di tahap ini.
    2. Perjanjian co-sell. Ditandatangani sekali dan dipakai untuk proyek-proyek berikutnya.
    3. Registrasi peluang. Mitra mendaftarkan peluang agar posisi mitra di proyek tersebut tercatat.
    4. Sizing dan arsitektur. Tim teknis IONext membantu memilih antara NVIDIA RTX PRO 6000 Blackwell Server Edition 96 GB dan NVIDIA L40S 48 GB, serta antara dedicated GPU, GPU virtual machine yang dikelola lewat ORBIT, atau managed inference. Rincian perangkat ada di halaman GPU IONext di Jakarta.
    5. Paket kepatuhan untuk klien. Mitra menerima dokumen yang bisa diteruskan ke tim risiko, pengadaan atau DPO klien.
    6. POC. Proof of concept berjalan di infrastruktur yang sama dengan produksi, jadi jawaban soal lokasi data tidak berubah saat proyek naik kelas.
    7. Produksi. Layanan berjalan dan dipantau. Skema penagihan, melalui mitra atau langsung ke klien, mengikuti perjanjian co-sell.

    Pertanyaan kepatuhan apa yang bisa dijawab bersama IONext?

    Pertanyaan yang paling sering muncul di RFP AI sektor teregulasi adalah lokasi pemrosesan data, ada tidaknya transfer ke luar negeri, sertifikasi keamanan, dan peran para pihak dalam pemrosesan data pribadi. IONext menyediakan jawaban berbasis dokumen untuk lapisan infrastruktur. Lapisan aplikasi, dasar hukum pemrosesan, dan tata kelola data tetap disiapkan mitra dan klien.

    Pertanyaan di RFP Jawaban infrastruktur IONext (Okt 2026) Disiapkan mitra dan klien
    Di mana data dan inference diproses? Komputasi GPU, inference dan penyimpanan data pelanggan berjalan di infrastruktur di Jakarta Lokasi komponen lain di stack mitra (aplikasi, monitoring, backup)
    Apakah ada transfer data ke luar negeri? Model open-weight berjalan di perangkat IONext di Jakarta. Request inference tidak diteruskan ke penyedia API di luar negeri Layanan pihak ketiga lain yang dipakai solusi mitra
    Standar keamanan apa yang dipegang? ISO/IEC 27001:2022 dari TÜV NORD Indonesia, nomor registrasi 01 07 E 26000410, berlaku 7 Mei 2026 sampai 6 Mei 2029 Kontrol keamanan aplikasi dan akses pengguna
    Siapa pengendali dan prosesor data? Klien sebagai pengendali. IONext berperan sebagai prosesor atau sub-prosesor untuk lapisan infrastruktur, mengikuti struktur kontrak Dasar hukum pemrosesan, persetujuan, DPIA, daftar sub-prosesor lengkap
    Siapa badan hukumnya dan bagaimana penagihannya? PT Data Awan Nusantara, perseroan terbatas Indonesia, faktur dalam Rupiah dengan PPN Struktur kontrak antara mitra dan klien

    Konteks regulasinya masih bergerak. Per 8 September 2026, Bisnis.com melaporkan Lembaga PDP belum terbentuk, padahal lembaga ini yang akan menerbitkan aturan teknis, termasuk penilaian risiko transfer data lintas batas. Selama aturan teknis itu belum ada, memproses data di Indonesia mengurangi jumlah pertanyaan yang belum punya jawaban pasti. Untuk perbankan, OJK sudah menerbitkan Tata Kelola Kecerdasan Artifisial Perbankan Indonesia pada 29 April 2025 yang merujuk UU PDP. Untuk sistem elektronik lingkup publik, PP No. 71 Tahun 2019 mengatur bahwa pengelolaan dan pemrosesan data dilakukan di Indonesia, dengan pengecualian terbatas.

    Detail sertifikat dan posisi UU PDP IONext ada di halaman Keamanan dan Kepatuhan IONext. Untuk pola arsitekturnya, lihat arsitektur RAG yang datanya tetap di Indonesia dan memakai LLM untuk data pelanggan menurut UU PDP.

    Di mana IONext berperan, dan di mana tidak?

    IONext adalah lapisan infrastruktur: GPU, inference, penyimpanan, dan platform pengelolaan di Jakarta. IONext tidak membangun aplikasi klien, tidak menggantikan peran mitra sebagai pelaksana proyek, dan tidak membuat sebuah proyek patuh UU PDP hanya karena servernya berada di Indonesia. Kepatuhan tetap tanggung jawab bersama.

    Batasan yang perlu diketahui mitra sejak awal:

    • Sertifikasi bukan kepatuhan otomatis. ISO/IEC 27001:2022 membuktikan sistem manajemen keamanan informasi IONext. Sertifikat ini tidak menggantikan DPIA, dasar hukum pemrosesan, atau kontrol di aplikasi mitra.
    • Pilihan GPU terbatas pada dua tipe. Saat ini IONext menyediakan NVIDIA RTX PRO 6000 Blackwell Server Edition 96 GB dan NVIDIA L40S 48 GB. Bila proyek butuh perangkat lain, IONext akan menyampaikannya di tahap sizing, bukan setelah tender.
    • Model yang tersedia adalah model open-weight. Proyek yang mensyaratkan model proprietary tertentu dari penyedia asing perlu dinilai terpisah.
    • Harga tidak dipublikasikan di situs. Penawaran disusun per proyek setelah sizing.

    Yang dikerjakan IONext dengan serius adalah membuat jawaban infrastruktur di proposal mitra bisa dibuktikan. Asisten operasional IONA dan konsol ORBIT membantu tim mitra mengelola lingkungan klien setelah proyek berjalan. Untuk gambaran besar mengapa residensi data penting, baca apa itu sovereign AI cloud.

    Pertanyaan yang sering diajukan

    Apakah mitra harus menjual ulang layanan IONext? Tidak harus. Skema komersial, termasuk siapa yang menagih klien, disepakati dalam perjanjian co-sell sesuai cara mitra biasa bekerja dengan kliennya.

    Apakah IONext akan menghubungi klien mitra secara langsung? Peluang yang sudah didaftarkan mitra tetap dipegang mitra. IONext hadir di depan klien hanya bila mitra memintanya, misalnya untuk sesi teknis atau due diligence keamanan.

    Apakah memakai IONext otomatis membuat proyek patuh UU PDP dan PP 33/2026? Tidak. Infrastruktur di Jakarta dan sertifikasi ISO/IEC 27001:2022 menjawab sebagian pertanyaan, terutama soal lokasi pemrosesan dan keamanan informasi. Dasar hukum, persetujuan, DPIA dan tata kelola data di aplikasi tetap perlu disiapkan mitra dan klien.

    Mulai percakapan kemitraan

    Untuk system integrator yang sedang menawar atau menjalankan proyek AI bagi klien perbankan, BUMN atau pemerintah, percakapan kemitraan paling efektif dimulai dari satu proyek nyata. Ajukan percakapan kemitraan dengan tim IONext dan pilih "Mitra / system integrator" pada kolom peran.

    Sumber

    Halaman ini berisi informasi umum dan bukan nasihat hukum. Untuk kebutuhan kepatuhan, rujuk teks resmi peraturan dan konsultasikan dengan penasihat hukum.

    IONext adalah infrastruktur AI berdaulat yang di-host di Indonesia, dioperasikan oleh PT Data Awan Nusantara di Jakarta. IONext menyediakan GPU as a Service, managed inference melalui API yang kompatibel dengan OpenAI, dan hosting model open-weight, bersertifikat ISO/IEC 27001:2022 oleh TÜV NORD Indonesia.